Kamis, 28 Mei 2026
Piala Dunia 2026 Hanya di TVRI
Rabu, 11 Maret 2026
Ternyata saya sudah menjadi senior 'VIBE CODING'
Disuatu hari yang gabut, terjadi percakapan antara otak yang sedang overthingking vs Meta AI :
@Meta AI apa itu vibe coding ?
Vibe coding adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses coding yang lebih fokus pada intuisi, kreativitas, dan pengalaman pengguna, daripada hanya fokus pada sintaks dan logika kode. Vibe coding lebih tentang memahami "vibe" atau suasana yang ingin diciptakan oleh kode, dan membuat kode yang sesuai dengan itu.
Dalam vibe coding, programmer lebih fokus pada:
- Memahami kebutuhan dan keinginan pengguna
- Menciptakan pengalaman pengguna yang baik
- Membuat kode yang mudah dipahami dan dirawat
- Menggunakan intuisi dan kreativitas untuk menyelesaikan masalah
Vibe coding tidak berarti mengabaikan sintaks dan logika kode, tapi lebih tentang membuat kode yang lebih manusiawi dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Contohnya, jika kamu membuat aplikasi untuk anak-anak, vibe coding mungkin berarti membuat kode yang lebih ceria, interaktif, dan mudah digunakan.
Apa kamu ingin tahu lebih lanjut tentang vibe coding atau bagaimana menerapkannya dalam proyekmu? 😊
@Meta AI biasanya platform apa yg digunakan dalam vibe coding?
Dalam vibe coding, platform yang digunakan biasanya adalah platform yang mendukung pengembangan aplikasi yang cepat, fleksibel, dan berfokus pada pengalaman pengguna. Beberapa contoh platform yang sering digunakan dalam vibe coding adalah:
- Web development: React, Angular, Vue.js
- Mobile development: React Native, Flutter, SwiftUI
- Design tools: Figma, Sketch, Adobe XD
- Prototyping tools: InVision, Adobe XD, Figma
Platform-platform ini memungkinkan developer untuk membuat aplikasi yang cepat, responsif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Namun, perlu diingat bahwa vibe coding bukan tentang platform tertentu, tapi lebih tentang pendekatan dan mindset dalam pengembangan aplikasi.
Apa kamu ingin tahu lebih lanjut tentang platform-platform tersebut atau bagaimana memilih platform yang tepat untuk proyekmu?
@Meta AI adakah vibe coding untuk mikrokontroler ?
Ya, ada beberapa platform dan pendekatan yang dapat digunakan untuk vibe coding pada mikrokontroler, seperti:
- Arduino: Platform mikrokontroler yang populer dan mudah digunakan, dengan bahasa pemrograman yang sederhana dan komunitas yang besar.
- ESP32/ESP8266: Mikrokontroler Wi-Fi yang dapat diprogram dengan bahasa C/C++ dan memiliki komunitas yang aktif.
- Python on Microcontrollers: Platform seperti CircuitPython dan MicroPython memungkinkan penggunaan bahasa Python pada mikrokontroler.
- Block-based coding: Platform seperti Blockly, Scratch, dan MakeCode memungkinkan pemrograman visual untuk mikrokontroler.
Beberapa contoh library dan framework yang dapat digunakan untuk vibe coding pada mikrokontroler adalah:
- Adafruit: Library untuk Arduino dan mikrokontroler lainnya yang memudahkan penggunaan sensor dan aktuator.
- ESP32/ESP8266 Arduino Core: Library yang memungkinkan penggunaan Arduino IDE untuk memprogram ESP32/ESP8266.
- CircuitPython: Library yang memungkinkan penggunaan Python pada mikrokontroler.
Dengan menggunakan platform dan library yang tepat, kamu dapat membuat proyek mikrokontroler yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhanmu.
@Meta AI misalnya saya menggunakan arduino ide untuk esp8266 dan mengakses sensor suhu, apakah ini bisa dinamakan vibe coding ?
Ya, jika kamu menggunakan Arduino IDE untuk memprogram ESP8266 dan mengakses sensor suhu, maka itu bisa dinamakan vibe coding! 😊
Dalam contoh ini, kamu menggunakan platform yang tepat (Arduino IDE) dan bahasa pemrograman yang sesuai (C/C++) untuk membuat proyek yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhanmu (mengakses sensor suhu).
Vibe coding bukan hanya tentang menggunakan teknologi tertentu, tapi juga tentang pendekatan dan mindset dalam membuat proyek. Dalam kasus ini, kamu:
- Menggunakan platform yang mudah digunakan dan memiliki komunitas yang besar (Arduino IDE)
- Memilih mikrokontroler yang sesuai untuk proyekmu (ESP8266)
- Menggunakan bahasa pemrograman yang familiar dan mudah dipahami (C/C++)
- Membuat proyek yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhanmu (mengakses sensor suhu)
Dengan demikian, kamu dapat dikatakan melakukan vibe coding karena kamu menggunakan pendekatan yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhanmu untuk membuat proyek yang menarik!
Kesimpulan : SAYA VIBE CODER LEVEL SENIOR !
Rabu, 14 Januari 2026
Kegelapan Digital di Teheran: Perang Sinyal, GPS, dan Starlink dalam Demonstrasi Iran 2026
- Komunikasi Terputus: Keluarga tidak bisa saling memberi kabar.
- Ekonomi Lumpuh: Transaksi digital, perbankan, dan aplikasi logistik berhenti berfungsi.
- Kegelapan Informasi: Video kekerasan aparat sulit keluar, memberikan ruang bagi penindakan keras tanpa pengawasan dunia internasional.
- Melumpuhkan Drone: Demonstran mulai menggunakan drone komersial kecil untuk memantau pergerakan pasukan keamanan. Dengan jamming GPS, drone ini kehilangan kendali dan jatuh.
- Menghentikan Logistik Demonstran: Tanpa GPS, aplikasi ride-hailing (seperti Snapp) tidak bisa berfungsi, mencegah mobilisasi massa secara cepat melalui transportasi online.
- Keamanan Militer: Gangguan ini juga berfungsi sebagai perisai terhadap potensi serangan presisi dari luar negeri di tengah ketegangan yang meningkat dengan AS.
| Dampak Gangguan | Statistik (Januari 2026) |
| Packet Loss (Kehilangan Data) | Meningkat dari 30% menjadi 80% di area perkotaan. |
| Kecepatan Upload | Menurun drastis, membuat pengiriman video resolusi tinggi hampir mustahil. |
| Stabilitas Koneksi | Koneksi menjadi "patchy" (putus-nyambung) setiap 5-10 menit. |
- Hopping Frequency: Mengubah frekuensi transmisi secara cepat untuk menghindari gangguan.
- Narrow Beamforming: Memfokuskan sinyal langsung ke terminal pengguna untuk menembus kebisingan elektronik dari jammers pemerintah.
- Rumah Sakit Terisolasi: Dokter kesulitan berkoordinasi mengenai pasokan medis yang menipis.
- Krisis Perbankan: Warga tidak bisa mengambil uang tunai karena sistem ATM yang bergantung pada jaringan yang sekarang mati.
- Kriminalitas Tak Terdeteksi: Kekerasan oleh milisi berpakaian sipil (Basij) terjadi di lorong-lorong gelap tanpa ada yang berani merekam karena takut file tidak bisa diunggah dan justru menjadi bukti untuk menangkap mereka.
*) disusun dari berbagai sumber dengan bantuan gemini AI
Minggu, 11 Januari 2026
Parabola Mini Kini Gak Tahan Hujan Lagi Setelah MNCVISION Pindah Ku-Band
Bagi generasi yang tumbuh di era 90-an dan 2000-an, pemandangan antena parabola kecil berbentuk solid dengan logo Indovision (sekarang MNC Vision) adalah simbol kemewahan hiburan rumah. Berbeda dengan antena parabola jaring (C-Band) yang berukuran raksasa, atau parabola Ku-Band yang sering "kalah" oleh mendung, MNC Vision punya senjata rahasia: Frekuensi S-Band.
Namun, sebuah kabar besar mengguncang industri penyiaran satelit tanah air. MNC Vision secara bertahap mengakhiri layanan siaran berbasis S-Band dan memigrasikan pelanggannya ke platform lain. Keputusan ini bukan sekadar pergantian perangkat, melainkan sinyal berakhirnya penggunaan frekuensi S-Band untuk layanan Direct-to-Home (DTH) di Indonesia.Mengapa frekuensi yang dulu dianggap "sakti" karena tahan hujan ini akhirnya ditinggalkan? Mari kita bedah sejarah, teknologi, dan alasan logis di baliknya.
Sejarah Singkat: S-Band dan Kejayaan Indovision
Pada tahun 1994, Indovision meluncurkan layanan TV satelit berlangganan pertama di Indonesia. Mereka memilih satelit Indostar-I yang mengorbit di frekuensi S-Band (sekitar 2.5 GHz). Keputusan ini sangat jenius untuk pasar Indonesia yang merupakan negara tropis dengan curah hujan tinggi.Dalam spektrum frekuensi satelit, S-Band berada di posisi yang unik. Ia memiliki gelombang yang cukup panjang sehingga tidak mudah terpecahkan atau diserap oleh butiran air hujan (rain fade). Itulah sebabnya, selama puluhan tahun, jargon "Tahan Hujan" menjadi jualan utama MNC Vision.
Di saat pengguna parabola lain melihat layar televisi mereka "bersemut" atau "no signal" saat badai, pelanggan MNC Vision tetap bisa menonton bola atau film dengan tenang.Mengapa S-Band Tidak Lagi Menjadi Frekuensi Utama DTH?Meskipun memiliki ketahanan cuaca yang luar biasa, S-Band mulai kehilangan daya tariknya di mata penyedia layanan dan regulator global.
Berikut adalah alasan-alasan teknis dan ekonomis mengapa S-Band akhirnya dipensiunkan:
1. Keterbatasan Bandwidth (Kapasitas Saluran)
Masalah terbesar S-Band adalah lebar pitanya yang sempit. Frekuensi S-Band biasanya beroperasi di rentang 2 hingga 4 GHz. Karena lebar pitanya terbatas, jumlah data yang bisa dikirimkan juga terbatas.Dulu: Di era TV kualitas SD (Standard Definition), S-Band masih mumpuni untuk menampung puluhan saluran.Sekarang: Di era kualitas HD (High Definition) dan 4K, S-Band tidak lagi sanggup. Satu saluran HD memakan bandwidth yang jauh lebih besar. Jika MNC Vision tetap bertahan di S-Band, mereka tidak akan bisa menambah banyak saluran HD atau 4K untuk bersaing dengan layanan streaming atau TV kabel modern.
2. Konflik dengan Spektrum 5G dan Seluler
Inilah alasan yang paling krusial secara regulasi. Frekuensi S-Band (khususnya di rentang 2.5 GHz - 2.6 GHz) adalah "lahan emas" bagi operator seluler.Di seluruh dunia, termasuk Indonesia (lewat Kominfo), spektrum ini dialokasikan kembali untuk layanan Mobile Broadband seperti 4G LTE dan 5G. Frekuensi ini sangat ideal untuk seluler karena memiliki daya jangkau yang luas namun tetap bisa membawa data dalam jumlah besar. Secara ekonomi, nilai spektrum ini jauh lebih mahal jika digunakan untuk layanan seluler dibandingkan untuk TV satelit.
3. Ekosistem Perangkat yang Mahal
Karena S-Band bukan standar global untuk TV satelit (mayoritas dunia menggunakan Ku-Band), maka produksi perangkatnya terbatas.LNB (Low Noise Block): LNB S-Band jauh lebih mahal diproduksi karena permintaannya sedikit.Parabola: Meskipun berukuran kecil, komponen pendukung S-Band tidak semurah komponen Ku-Band yang diproduksi secara massal dalam skala jutaan unit di seluruh dunia.Dengan beralih ke Ku-Band, penyedia layanan bisa menekan biaya pengadaan perangkat dekoder dan antena bagi pelanggan baru.
4. Efisiensi Satelit Modern (High Throughput Satellite)
Satelit-satelit modern saat ini dirancang untuk bekerja di frekuensi Ku-Band atau Ka-Band yang memiliki kapasitas raksasa (High Throughput). Membangun dan meluncurkan satelit khusus S-Band hanya untuk satu perusahaan menjadi investasi yang sangat berisiko dan tidak efisien secara finansial.Dampak Bagi Pelanggan dan Langkah MNC Vision
Lantas, apa yang terjadi setelah MNC Vision mematikan siaran S-Band?
MNC Group tidak benar-benar meninggalkan bisnis TV satelit. Mereka melakukan manuver strategis dengan memanfaatkan K-Vision (yang menggunakan frekuensi Ku-Band dan C-Band) serta mendorong transisi ke layanan berbasis internet (OTT) melalui Vision+.
Bagi pelanggan lama MNC Vision S-Band, transisi ini biasanya melibatkan:Penggantian Perangkat: Pelanggan perlu mengganti LNB di antena mereka atau mengganti seluruh parabola menjadi ukuran yang lebih kecil (Ku-Band).Migrasi ke IPTV/OTT: MNC Group gencar mempromosikan kotak dekoder berbasis Android yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satelit, melainkan pada koneksi internet.
Perbandingan S-Band vs Ku-Band vs C-Band
| Fitur | C-Band | S-Band | Ku-Band |
| Ketahanan Hujan | Sangat Tinggi | Tinggi | Rendah |
| Ukuran Antena | Besar (Jaring) | Kecil (Solid) | Sangat Kecil |
| Kapasitas Data | Sedang | Rendah | Sangat Tinggi |
| Biaya Perangkat | Murah | Mahal | Sangat Murah |
| Status Saat Ini | Standar Penyiaran | Ditinggalkan | Standar DTH Global |
Masa Depan: Dari Satelit ke Streaming
Pengakhiran siaran S-Band oleh MNC Vision adalah cerminan dari perubahan gaya hidup digital kita. Saat ini, kecepatan internet (fiber optik) sudah mulai merambah kota-kota kecil di Indonesia. Orang tidak lagi sekadar ingin menonton jadwal TV yang kaku, tetapi ingin layanan Video on Demand (VoD).
MNC Vision menyadari bahwa mempertahankan teknologi S-Band yang mahal dan terbatas adalah langkah yang menghambat inovasi. Dengan beralih ke spektrum yang lebih luas atau jalur internet, mereka bisa menawarkan:
- Kualitas gambar 4K yang kristal.
- Fitur catch-up TV (menonton siaran yang sudah lewat).
- Interaktivitas yang tidak mungkin dilakukan di frekuensi satelit lama.
Kesimpulan
Berhentinya siaran S-Band MNC Vision adalah tanda bahwa teknologi harus selalu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. S-Band telah berjasa memberikan hiburan tanpa gangguan cuaca selama hampir tiga dekade bagi masyarakat Indonesia. Namun, demi kemajuan kualitas siaran, efisiensi spektrum nasional untuk 5G, dan persaingan global, migrasi ini adalah langkah yang tidak terelakkan.
Kita mungkin akan merindukan ketangguhan parabola kecil itu saat badai menerjang, namun masa depan televisi yang lebih tajam dan interaktif sudah ada di depan mata.
Selasa, 23 Desember 2025
Inovasi SmartLamp : Integrasi YOLO dan IoT untuk Penerangan Jalan Berbasis Kepadatan Lalu Lintas
Pernahkah Anda membayangkan sebuah sistem lampu jalan yang tidak hanya menyala berdasarkan waktu, tetapi juga merespons kondisi nyata di lapangan? Sebuah proyek inovatif bertajuk "SmartLamp Otomatis dengan CCTV Times Square" baru saja dikembangkan untuk menjawab tantangan efisiensi energi dan manajemen lalu lintas cerdas. Proyek ini memanfaatkan teknologi deteksi objek terkini dan ekosistem IoT untuk menciptakan sistem penerangan yang adaptif.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Sistem ini bekerja dengan mengintegrasikan beberapa platform canggih untuk memproses data visual menjadi aksi nyata pada perangkat keras. Berikut adalah alur proses utamanya:
1. Pengambilan Data Real-Time: Proyek ini menggunakan sumber data berupa live streaming CCTV dari website EarthCam, dengan lokasi spesifik di Times Square, New York City, salah satu persimpangan tersibuk di dunia.
2. Deteksi Objek dengan AI: Data video diakses menggunakan link M3U8 dan diproses di Google Colab menggunakan bahasa Python,. Di sini, model YOLO (You Only Look Once) digunakan untuk mendeteksi dan menghitung jumlah objek (seperti kendaraan atau pejalan kaki) dalam frame video yang diambil setiap 10 detik.
Simulasi untuk python-yolo ada di google colab klik disini
3. Klasifikasi Kepadatan: Hasil perhitungan objek kemudian dikategorikan ke dalam tingkat kepadatan 1 hingga 4 (dari sepi hingga sangat ramai),. Sebagai contoh, jika terdeteksi banyak objek (misalnya 33 objek), sistem akan mengkategorikannya ke level 4 atau "sangat ramai".
4. Komunikasi Data via MQTT: Tingkat kepadatan ini dikirimkan melalui protokol MQTT ke mikrokontroler ESP32,. MQTT dipilih karena kemampuannya dalam pengiriman data secara real-time yang membutuhkan koneksi internet stabil.
5. Eksekusi IoT di Simulator: Pada sisi perangkat keras (yang disimulasikan melalui Wokwi), ESP32 menerima data tersebut dan mengatur output-nya,. Jika tingkat kepadatan mencapai level 4, maka intensitas lampu akan diatur ke 100% dan motor servo akan bergerak ke posisi 180 derajat.
Teknologi dan Tools yang Digunakan
Proyek ini merupakan perpaduan antara Data Science dan Internet of Things. Beberapa alat utama yang digunakan meliputi:
• Google Colab & Python: Untuk membangun model deteksi objek dengan library computer vision,.
• VS Code & PlatformIO: Digunakan untuk menulis program berbasis C++ bagi mikrokontroler,.
• Wokwi: Platform simulator untuk menjalankan proyek IoT secara virtual,.
• Komponen Elektronika: ESP32 sebagai otak sistem, Liquid Crystal (LCD) I2C untuk menampilkan status, serta motor servo dan lampu sebagai indikator fisik,.
Kesimpulan
Proyek SmartLamp ini membuktikan bahwa integrasi antara Artificial Intelligence (AI) dan IoT dapat memberikan solusi cerdas bagi infrastruktur perkotaan. Dengan mendeteksi tingkat kepadatan lalu lintas secara otomatis, penggunaan energi untuk lampu jalan dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan di lokasi tersebut.
Sistem ini layaknya seorang petugas lalu lintas yang memiliki mata elang, ia tidak hanya melihat seberapa gelap malam itu, tetapi juga mengamati seberapa sibuk jalanan, lalu memutuskan seberapa terang cahaya yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan semua orang.
--------------------------------------------------------------------------------
Informasi dalam blog ini disusun berdasarkan pemaparan tugas UAS matkul Komputasi berjaringan oleh Zaskhia Artina Isnalifah, mahasiswa S2 Informatika Unesa 2025.
Pzem 017 - DC Power Meter dan Monitoring IOT-MQTT-HTML di Github
Kebutuhan akan energi listrik searah (DC) dalam berbagai aplikasi,seperti sistem tenaga surya (PLTS), sistem penyimpanan energi menggunakan aki, dan beban lampu DC, menuntut adanya pengawasan yang presisi terhadap parameter operasionalnya.
Pemantauan terhadap tegangan (voltage), arus (current), dan daya (power) sangat penting untuk menjaga kesehatan baterai serta memastikan efisiensi konsumsi beban listrik. Pengukuran manual menggunakan multimeter konvensional seringkali tidak efisien untuk pengamatan jangka panjang karena tidak dapat merekam data secara kontinu dan real-time. (Saputra dkk., 2022).
Modul sensor PZEM-017 muncul sebagai solusi teknologi yang efektif untuk kebutuhan tersebut. Berdasarkan penelitian, PZEM-017 memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi dalam pembacaan parameter listrik DC, dengan tingkat akurasi pembacaan tegangan mencapai 99,98%, arus 98,08%, dan daya 98,33%. Sensor ini menggunakan protokol komunikasi Modbus-RTU melalui antarmuka RS485 yang memungkinkan transmisi data digital yang stabil bahkan dalam lingkungan dengan gangguan interferensi elektromagnetik. (Solar-Thailand, n.d.; Iswahyudi dkk., 2025).
Akses ke Pzem 04 & 017 - Python - Modbus baca disini
Integrasi perangkat keras dengan platform perangkat lunak modernseperti Python memberikan fleksibilitas dalam pemrosesan data. Python mampu menjalankan fungsi kalkulasi dan mengirimkan data secara sinkron ke antarmuka berbasis web. Dengan memanfaatkan dashboard HTML yang dideploy melalui GitHub Pages, data monitoring dapat diakses secara daring, memungkinkan pengguna untuk memantau status aki dan beban lampu dari jarak jauh.
Melalui percobaan ini, penggunaan PZEM-017 dengan suplai aki 12V dan beban lampu didokumentasikan untuk menganalisis performa sistem kelistrikan DC secara menyeluruh.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas, maka formula yang akan diusulkan pertanyaannya pada percobaan ini adalah:
1. Bagaimana cara integrasi sensor PZEM-017 dengan bahasa pemrograman Python sehingga sensor mampu membaca parameter energi listrik DC yang sesuai?
2. Bagaimana dampak pemberian beban lampu terhadap stabilitas tegangan serta seberapa besar arus yang dikonsumsi oleh suplai aki 12V?
3. Bagaimana cara merancang antarmuka dashboard monitoring berbasis web dengan desain HTML agar dapat dipantau secara real time?
4. Berapa tingkat akurasi dan reaktifitas sebua sensor terhadap perobahan parameter saat beban dipasang?
Pada percobaan kali ini terdapat beberapa komponen utama dan beberapa komponen penunjang yang masing masing memeliki peran penting untuk menunjang keberhasilan dalam percobaan. Komponen penunjang yang berperan penting tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Modul PZEM-017 (DC)
PZEM-017 adalah modul elektronik yang dirancang khusus untuk mengukur parameter listrik DC seperti tegangan, arus, daya, dan energi. Modul ini menggunakan komunikasi RS485 melalui protokol Modbus-RTU, yang memungkinkan data dibaca secara akurat oleh mikrokontroler atau komputer melalui bantuan konverter serial.
2. Komunikasi Serial & Python
Python digunakan sebagai bahasa perantara untuk membaca data dari sensor. Dengan pustaka (library) tertentu, Python dapat mengambil data mentah dari sensor PZEM dan mengolahnya menjadi informasi numerik yang dapat ditampilkan atau dikirim ke server web.
3. Dashboard Monitoring (HTML & GitHub Pages)
Visualisasi data dilakukan melalui dashboard berbasis HTML. Penggunaan GitHub Pages memungkinkan data tersebut diakses secara daring melalui URL tertentu, sehingga pemantauan tidak terbatas pada layar lokal komputer saja.
4. Aki (Baterai Lead-Acid)
Aki atau baterai lead-acid merupakan perangkat elektrokimia yang berfungsi sebagai penyimpan energi listrik dalam bentuk energi kimia. Pada percobaan ini, aki 12V digunakan sebagai sumber tegangan utama (suplai) untuk sistem monitoring. Menurut literatur, aki memiliki karakteristik tegangan yang akan menurun seiring dengan besarnya beban yang diberikan (voltage drop). Penurunan tegangan inidipengaruhi oleh hambatan dalam baterai dan laju pengosongan arus (discharge rate).
5. Beban Lampu
Lampu DC dalam sistem ini bertindak sebagai beban resistif yang mengonsumsi energi dari suplai aki. Lampu merupakan komponen yang mengubah energi listrik menjadi energi cahaya. Besarnya arus yang ditarik oleh lampu berbanding lurus dengan daya lampu tersebut dan berbanding terbalik dengan tegangan suplai sesuai dengan Hukum Ohm ( P = V x I).
Penggunaan lampu sebagai beban bertujuan untuk melihat kemampuan sensor PZEM dalam merespons lonjakan arus dan perubahan daya secara real-time saat beban diaktifkan.
6. Shunt Resistor
Shunt resistor adalah komponen elektronika yang memiliki nilai hambatan sangat rendah dan presisi, yang dipasang secara seri dengan beban. Prinsip kerja shunt resistor didasarkan pada Hukum Ohm, di mana arus yang mengalir melalui hambatan tersebut akan menghasilkan beda potensial (tegangan drop) yang sangat kecil.
Tegangan drop inilah yang kemudian dibaca oleh modul PZEM-017 untuk dikonversi menjadi nilai arus (Ampere). Dalam pengujian arus besar (seperti penggunaan aki dan lampu), shunt resistor berfungsi agar sensor tidak rusak akibat panas berlebih karena arus tidak langsung mengalir melalui sirkuit utama sensor, melainkan melalui hambatan eksternal ini.
Prosedur Pemasangan
1. Langkah pertama adalah menyiapkan alat dan bahan untuk kemudian akan dirangkai.
2. Alat yang diperlukan ialah sensor PZEM-017, Shunt Resistor, Modul rs-485, dan Aki 12V.
3. Kemudian merangkai sistem dengan menghubungkan Aki ke beban. Shunt Resistor dipasang secara seri pada jalur negatif (kutub negatif aki ke shunt, lalu shunt ke beban) sesuai diagram wiring PZEM-017.
4. Menghubungkan kabel data sensor PZEM-017 ke modul RS485 to USB, lalu dicolokkan ke port USB Laptop.
5. Jangan lupa untuk menjalankan program Python yang telah disesuaikan untuk membaca register Modbus PZEM-017 (DC) pada Visual Studio Code.
6. Memastikan pembacaan data Tegangan, Arus, dan Daya muncul pada terminal Python.
7. Mengirimkan data ke broker MQTT dan membuka dashboard.
8. Membuat repositori di GitHub dan mengunggah file index.html untuk dashboard monitoring.
9. Mengatur konfigurasi GitHub Pages pada pengaturan branch main dan folder root.
10. Menghubungkan sensor PZEM ke sumber daya aki 12V dan beban lampu.
11. Lalu hubungkan rangkaian ke suplai agar beban dapat menyala sehingga nantinya informasi seperti te gangan, arus, dan daya akan muncul pada dashboard html.
Cara kirim data pzem ke web github melalui MQTT baca disini.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan dengan menggunakan suplai aki 12V dan beban lampu DC, berikut adalah data hasil pengukuran yang diperoleh melalui dashboard monitoring:
Parameter Tegangan (Voltage):
Sistem membaca tegangan pada nilai 9,00 Volt. Terjadi voltage drop (penurunan tegangan) yang cukup signifikan dari nilai nominal aki 12V. Hal ini menunjukkan beban lampu menarik daya yang cukup besar atau kondisi State of Charge (SoC) aki yang sedang menurun.
Parameter Arus (Current):
Arus yang mengalir pada rangkaian terdeteksi sebesar 8,24 Ampere. Nilai ini menunjukkan beban lampu yang digunakan memiliki resistansi rendah sehingga menarik arus yang cukup tinggi dari suplai.
Parameter Daya (Power):
Daya listrik yang dikonsumsi oleh beban adalah sebesar 70,1 Watt. Hasil ini didapatkan dari perkalian real-time antara tegangan (9V) dan arus (8,34A).
Visualisasi Grafik:
Dashboard menampilkan grafik garis yang stabil namun meningkat tajam saat lampu dinyalakan. Grafik arus dan daya menunjukkan responsivitas sensor PZEM-003 yang sangat cepat dalam menangkap perubahan status beban (dari OFF ke ON).
Konektivitas Data:
Integrasi antara Python (sebagai pengolah data serial) dan GitHub Pages (sebagai host dashboard) berjalan tanpa kendala (delay rendah), sehingga data yang tampil di web sinkron dengan kondisi fisik di lapangan.
Bersama mahasiswa kelas Elektronika Daya D4 Teknik Listrik Vokasi Unesa 2024 (I). Link pengumpulan tugas lengkap disini : https://drive.google.com/drive/folders/1zgWdeR1pKQIqIM51rKrKw9vubsfMuFG3?usp=sharing





















